Jul 5, 2011

Pembuatan Pestisida Nabati/Hayati

 

Pada hari yang sama dengan praktek pembuatan vertikultur yaitu Sabtu, 21 Mei 2011 juga dilakukan praktek pembuatan pestisida nabati. Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tanaman atau tumbuhan. Pestisida nabati bisa dibuat secara sederhana yaitu dengan menggunakan hasil perasan, ekstrak, rendaman atau rebusan bagian tanaman baik berupa daun, batang, akar, umbi, biji ataupun buah. 

Praktek pembuatan pestisida nabati ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida sentetis, karena penggunaan pestisida sentetis yang terus menerus dan berlangsung lama akan mengakibatkan kerusakan ekosistem lahan pertanian, terganggunya eksistensi flora dan fauna di sekitar lahan pertanian dan kesehatan petani pekerja. Kerusakan ekosistem pertanian pada akhirnya menekan daya dukung lahan akibat merosotnya populasi mikroorganisme tanah yang berguna membantu mempertahankan kesuburan lahan pertanian. Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya resistensi hama dan penyakit tanaman mengakibatkan petani menggunakan dosis yang lebih tinggi lagi sehingga tingkat kerusakan ekosistem menjadi semakin parah.


Dengan praktek pembuatan pestisida nabati ini diharapkan peserta pelatihan dapat memanfaatkan pengetahuan yang mereka dapatkan utuk lahan pertanian mereka sekaligus juga mengurangi biaya produksi dalam pembelian pestisida kimia. Pada kesempatan kali ini pestisda yang dibuat berasal dari ekstrak batang serai, daun mimba dan lengkuas. 




by : palinsi

Demonstrasi Plot Tanaman (Cabai, Terong dan Kubis)

Setelah dilakukan pengolohan lahan terhadap lahan-lahan yang akan dijadikan demplot (demonstrasi plot) tahap selanjutnya adalah pengiriman mulsa dan bibit yang akan ditanam. Bibit yang akan ditanam antara lain adalah bibit cabai, terong dan kubis. Bibit yang dikirim merupakan bibit yang diketahui dengan jelas varietas serta kualitasnya. 

Demplot dibuat dengan menggunakan mulsa plastik, manfaat mulsa plastik untuk lahan adalah lembaran platik berwarna hitam perak yang berguna untuk melindungi permukaan tanah dari terpaan hujan, erosi dan menjaga kelembaban tanah, struktur tanah, kesuburan tanag serta menghambat pertumbuhan gulma atau rumput liar yang berada di sekitar tanaman yang dibudidayakan dengan system tanpa mulsa. Pada system budidaya yang dilakukan secara intrensif seringkali menggunakan mulsa hitam perak untuk mengurangi penguapan air dari tanah dan menekan hama serta penyakit dan gulma. Selain itu dengan menggunakan mulsa lahan akan terawat dengan baik dan juga baik bagi pertumbuan tanaman  itu sendiri. Pertumbuhan gulma menjadi sedikit sekali, perawatan pada lahan  juga lebih mudah. Penggunaan mulsa hitam perak pada tanaman  juga bisa meningkatkan produktivitas serta efektif mengurangi pertumbuhan gulma. Sebab mulsa ini bisa menjaga tanah tetap gembur, suhu dan kelembaban tanah relatif tetap stabil. Selain itu, dengan adanya mulsa, pemberian pupuk, pengendalian gulma maupun hama penyakit dapat berkurang baik dalam segi biaya dan waktu yang dibutuhkan. Fungsi lain dari mulsa hitam perak sebagai penutup lahan adalah warna hitamnya menimbulkan kesan gelap secara langsung sehingga bisa menekan pertumbuhan gulma. Sedangkan warna perak di salah satu sisi bagian mulsa ini mampu memantulkan sinar matahari agar pemanfaatan sinar matahari tidak hanya secara langsung terkena tanaman, sehingga proses photosintesis bisa berlasung pada kedua sisi daunnya. Selain itu warna perak pada mulsa juga bisa mengurangi perkembangan hama aphids dan tungau yang selalu bersarang pada tanaman khususnya cabai serta secara tidak langsung dapat menekan serangan penyakit yang disebabkan oleh virus.



by : palinsi